Al-Ihsaniyah

Bulletin Jum’at Marzuki Alie Center

HIKMAH DI BALIK QURBAN DAN PENGORBANAN

Oleh : H. Abdul Rahman Romli, S.Ag.,M.Pd.I

Qurban berasal dari kata “Qoroba” , yang artinya mendekatkan diri. Dalam konteks keislaman maknanya yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Istilah lain dari ritual qurban ini adalah “Udhiyyah” yaitu mempersembahkan dan memberikan sesuatu kepada Allah dengan sesuatu yang dikorbankan. Dalam konteks keislaman sesuatu yang dikurbankan itu adalah hewan ternak, seperti sapi, unta dan kambing.

Selain memiliki makna ritual, ibadah qurban juga mengandung makna sosial, oleh karenanya umat Islam yang merayakan ‘Idul Qurban seharusnya berupaya menggali makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ibadah qurban ini hanya menjadi rutinitas yang miskin makna dan hikmah, hanya sampai pada proses penyembelihan hewan kurban, mendistribusikannya dan pesta sate sepuas-puasnya.

Berbicara masalah kurban dan pengorbanan, maka tak terlepas  dari rangkaian kisah pengorbanan Nabi Ibrahim As akan putranya yang terkasih Isma’il As. Peristiwa yang terjadi ribuan tahun yang lalu seolah masih terngiang di telinga kaum muslimin manakala Idul Adha datang menghampiri.

Al-Qur’an sebagai Kitab pamungkas Allah SWT melukiskan kisah indah nan haru ini sebagai ibrah (pelajaran) yang sangat berharga bagi umat manusia. Kisah ini dari mimpi Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya Isma’il, “Ibrahim berkata : “hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?…”(Q.S.As-Shaffat : 102)

Nabi Ibrahim As saat itu dihadapkan kepada dua situasi yang sulit, di satu sisi beliau adalah seorang kepala keluarga, seorang ayah yang secara naluri kemanusiaan sangat menyayangi anaknya. Anak bagi seorang ayah merupakan segala-galanya, ia adalah tumpuan hati, belahan jiwa, penerus cerita, pelanjut sejarah orang tuanya. Karenanya, maka kasih syang yang tulus ditumpahkan sepenuhnya kepadanya. Dalam situasi ini Al-Qur’an memberikan istilah bagi anak adalah sebagai “Ziinatu Al-Hayati Ad-Dunya” (perhiasan kehidupan dunia bagi orang tuanya / lihat Q.S.Al-Kahfi : 46).

Karena anak dilambangkan sebagai perhiasan, maka wajarlah bila semua orang tua mendambakan eksistensi dan perkembangannya, ia dapat menjadi sumber inspirasi, membentuk aspirasi dan membangkitkan motivasi orang tuanya. Namun di sisi lain Nabi Ibrahim As adalah seorang Rasul yang berkewajiban  menyampaikan (tabligh) dan sekaligus melaksanakan perintah Allah SWT. Sungguh suatu tugas yang maha berat tapi mulia di sisi Allah. Akhirnya Nabi Ibrahim tetap akan melaksanakannya, dan bahkan Isma’il pun berkata :  “Ya  abati if’al Ma Tu’mar, satajiduni Insya Allah Min as-Shabiriin” (hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar / Q.S.As-Shaffat : 102)

Diriwayatkan dalam kitab “Durrah” yang ditulis oleh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawi, menceritakan peristiwa yang sangat mengagumkan bahwa : “disaat pisau Nabi Ibrahim hampir sampai di tenggorokan Isma’il, maka saat itu para Malaikat di langit : “Ya Allah leher itu….Ya Allah leher itu !, lalu mereka semua bersujud kepada Allah karena tidak kuasa menyaksikan prosesi penyembelihan itu, maka Allah dengan bangga berseru kepada mereka : “perhatikanlah hai para malaikat-Ku, bagaimana seorang hamba-Ku Ibrahim dan Isma’il mentaati perintah-Ku karena semata-mata mengharap ridha-Ku, dan seandainya seluruh malaikat-Ku membawa leher-leher mereka, maka tidak akan dapat menyamai dan menebus leher Isma’il.

Itulah saat dimana kesetiaan, cinta kasih dan keimanan seorang hamba diuji oleh Allah SWT. Akhirnya Allah memberikan pertolongan kepada keduanya dengan mengganti sembelihan itu dengan seekor kibas sebagaimana firman-Nya,  “lalu Kami tebus anak itu (Isma’il) dengan seekor sembelihan yang besar (seekor domba/kibas)” (Q.S.Ash-Shaffat : 107). Rasa haru dan suka cita menyelimuti mereka berdua, bahagia telah mampu melaksanakan perintah Allah dengan penuh keimanan kepada-Nya, lalu Allah memuji dan mengapresiasi ketaatan Nabi Ibrahim : “Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S.Ash-Shaffat : 105), kemudian Allahpun merestuinya : “Salamun ‘alaa Ibrahim” ( (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim ) Q.S.Ash-Shaffat : 109).

Dibalik Kisah
Cuplikan sekilas Qurban dan  pengorbanan Nabi Ibrahim dan Isma’il  di atas, mengandung hikmah yang sangat urgen bagi umat manusia. Sedikitnya ada tiga hikmah yang dapat dipetik. Pertama : bersabar atas segala sesuatu (Ash-Shoru ‘alaa Kulli Haal). Di tengah keterpurukan bangsa kita  saat ini, dihiasi dengan berbagai kericuhan dan kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat di wilayah nusantara, dekadensi moral, musibah melanda, krisis ekonomi dan kepercayaan yang menyelimuti, maka tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali bersabar dan memperbaiki diri, memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan bangsa dengan tetap disinari nilai-nilai ukhuwwah dan keimanan kepada Allah SWT. Sabar artinya kemampuan menahan diri terhadap perbuatan-perbuatan negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Ash-Shoru ‘alaa Kulli Haal maksudnya sabar dalam menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, sabar dalam mempertahankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu tidak heran jika Allah menyatakan : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Q.S.Al-Baqarah : 153).

Kedua : Jujur dalam melakukan sesuatu (Ash-Shidqu Liyashna’ syai’an).
Di zaman modern sekarang ini, dalam era globalisasi informasi saat ini, betapa dengan mudahnya kita bisa mencari dan mendapatkan orang-orang yang pintar. Namun sungguh sangat sulit mencari dan menemukan orang-orang yang jujur. Bahkan Perguruan-perguruan Tinggi Negeri maupun swasta dengan segala atribut dan fasilitasnya telah banyak mencetak ratusan bahkan mungkin ribuan para sarjana setiap tahunnya. Sarjana yang sarat dengan ilmu pengetahuan, daya nalar dan rasional yang tinggi, akan tetapi pendidikan dan keilmuan tersebut tidak dapat menjamin seseorang menjadi jujur. Kita mengangkasa dalam teknik tapi merangkak dalam etik, kejujuran tak ubahnya laksana teori yang diukir dengan kata-kata indah tapi tanpa realita dan bukti nyata, kejujuran bagai sebuah sya’ir yang dilantunkan dengan filosofis tinggi namun tanpa realisasi dan aplikasi.

Perhatikanlah bagaimana Allah memuji kejujuran Nabi Ibrahim As dengan menyatakan : “Qod Shoddaqta Ar-Ru’ya” . Rasulullah SAW pun sebelum menjadi Nabi pernah mendapat gelar “Al-Amin” (orang yang dapat dipercaya) oleh orang-orang Quraisy. Pemerintahan yang jujur, bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme akan dapat memberikan secercah angin segar bagi masyarakat bangsa Indonesia dalam membangun kembali dan bangkit dari keterpurukan nasional selama ini.

Ketiga : ketaatan merupakan pembuka pertolongan (Ath-Tho’atu Miftahu Al-‘Inayah) .
Nabi Ibrahim As sosok orang tua yang ideal. Seorang yang lebih mencintai Allah daripada keluarganya. Ketaatannya kepada Allah lebih besar dari rasa cintanya kepada anaknya. Inilah sikap seorang mukmin yang sesungguhnya, bukankah Allah pernah berfirman : “Walladzina amanu asyaddu hubban lillahi” (orang-orang yang beriman itu lebih tinggi cintanya kepada Allah / lihat Q.S. Al-baqarah : 165).

Isma’il As adalah figur seorang anak remaja yang ideal, ketaatan dan kepatuhannya kepada orang tua dalam rangka ibadah kepada Allah lebih diutamakan daripada kepentingan dirinya sendiri. Dewasa ini para orang tua dan pemerintah dihadapkan kepada problematika sosial yang melanda yaitu kenakalan remaja. Sebagian mereka hanyut dalam kemerosotan etika, larut dalam dekadensi moral, gemar berjudi, berkenalan dengan minuman keras, bergaul dengan narkoba dan melupakan Tuhannya. Karena itu remaja-remaja seperti sosok Isma’il sangat diharapkan eksistensinya dan dirindukan kehadirannya oleh bangsa dan negara kita sekarang ini.

Wallahu A’lam

December 24, 2008 - Posted by | Bulletin Jum'at

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: